Perang Tarif Penjualan Smartphone BlackBerry

"Yang nemu BlackBerry-an lebih murah dari punya gue, bakal gue jadiin pacar," tantang artis cantik, Agnes Monica. Lalu, muncul seorang laki-laki gemuk tersenyum gembira sambil berkata, "BlackBerry saya lebih murah lho, hanya Rp 88.000 sebulan". Agnes tertegun dan mereka pun pacaran.

Penggalan iklan itu hanyalah salah satu cara PT Hutchison CP Telecom (HCPT) memperkenalkan produk barunya akhir Februari lalu. Dengan mengusung tarif murah, pemilik brand Tri ini menjadi operator GSM terbaru yang meramaikan persaingan pasar BlackBerry (BB).

Tiga operator GSM lainnya, yaitu Telkomsel, XL-Axiata dan Indosat hampir 3 tahun merilis produk bundling BB ke pasaran. Sementara, dari jalur CDMA, muncul Smart dan Star One.

Sebagai pemain baru di pasar BlackBerry Internet Service (BIS), Tri berusaha menjaring konsumen dengan tarif layanan miring. Suresh Reddy Chief Commercial Officer Tri mengklaim, tarif Rp 88.000 merupakan tarif termurah untuk akses tanpa batas dengan BlackBerry. Ia menegaskan, tarif layanan itu tidak hanya berlaku selama masa promosi, tapi sepanjang tahun. "Ini adalah tarif normal, bukan promosi," tegasnya.

Sebenarnya tarif masih mahal

Sebelum Tri masuk, tarif paling miring untuk layanan unlimited pra bayar dikuasai oleh Axis. Produk layanan BB Axis, yaitu Worry Free BlackBerry ketika pertama kali muncul memberikan tarif promosi sebesar Rp 100.000 per bulan. Pelanggan yang mendaftarkan aplikasi BIS sebelum tanggal tertentu juga bisa mendapatkan tarif kurang dari Rp 100.000 itu.

Namun, setelah promosi berakhir tarifnya lebih mahal. John Buse, Chief Executive Officer PT Natrindo pemegang merek Axis, mengatakan, pihaknya tidak mau terjebak dalam perang tarif. "Kami lebih berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada pelanggan," katanya.

Berbeda dengan dua pemain baru itu, Telkomsel dan XL kelihatannya sudah cukup percaya diri dengan tarif mereka. Maklum, keduanya merupakan penguasa pasar BB nasional. Saat ini, Telkomsel memiliki 260.000 pelanggan, sementara XL mampu menjaring 225.000 pengguna BB.

Tarif layanan BIS prabayar kedua operator itu juga tidak berbeda jauh, Telkomsel sebesar Rp 180.000 dan XL Rp 199.000 per bulan. "Tarif kami sudah cukup kompetitif. Lagipula itu sudah sesuai kebutuhan dan kemampuan pelanggan," kata Handono Warih, GM Sales XL Axiata.

Ricardo Indra, GM Corporate Communication Telkomsel menuturkan, meningkatnya kebutuhan pelanggan BB akan membuat tarif semakin kompetitif. Ia bilang, besaran tarif dipengaruhi beberapa komponen tarif seperti biaya operasional, servis, dan jaringan. Di samping itu, operator juga harus membayar lisensi ke Research In Motion (RIM) selaku produsen BB. "Kualitas layanan ikut mempengaruhi biaya lisensi BB," tutur Ricardo.

Agung Wijanarko, Division Head BlackBerry Consumer and Device Indosat mengatakan, tarif BIS di layanan berbasis CDMA dan GSM tidak berbeda. Bahkan, di Indosat, tarif yang dibebankan ke konsumen sudah termasuk APN Starone. Sutikno, Presiden Direktur Smart Telecom menambahkan, tarif Smart disesuaikan dengan layanan yang diberikan.

Dibandingkan di luar negeri, sejatinya, tarif BIS di sini tergolong mahal. Ambil contoh di Inggris. Orange, salah satu operator di Inggris, hanya membandrol tarif BIS sebesar 5 poundsterling atau Rp 70.000 per bulan.

0 comments:

Copyright © 2012 Berita IT.
Blogger Template by Clairvo