Bunuh Diri Guncang Dunia Seluler

Bisnis telekomunikasi bergoncang setelah 24 orang pegawai France Telecom bunuh diri hanya dalam 18 bulan. Tekanan pekerjaan disebut-sebut sebagai penyebab tragedi itu. Namun France Telecom malah menyalahkan pada BlackBerry.

Pegawai France Telecom yang melakukan bunuh diri terakhir adalah Jean-Paul Rouannet (51) yang bekerja di call centre Orange, anak usaha perusahaan itu. Ia melompat dari jembatan pekan lalu, dan menggenapkan kasus bunuh diri menjadi 24 orang.

Laki-laki itu meninggalkan catatan pada istri serta dua anaknya dan menyalahkan pada tekanan kerja. Dia baru-baru ini dipindahkan dari bagian pencatatan buku besar ke layanan call centre dan customer service.Teman-temannya mengatakan dia tidak berhasil memenuhi target yang ditetapkan dan juga tidak mendapat perhatian perusahaan.

Salah satu raksasa telekomunikasi dunia itu telah dikritisi menyangkut program pemindahan kerja sukarela, pemaksaan pegawai tua untuk pensiun, serta jadwal jam kerja selama 35 jam dalam sepekan yang tidak fleksible.

Selain itu juga ada masalah menyangkut kesehatan pegawai, training yang berulang, serta buntunya dialog karyawan dengan manajemen, sebut ‘Le Nouvel Observateur’, salah satu majalah terkenal Prancis yang terbit pekan ini.

Pemimpin serikat pekerja menyalahkan tragedi besar itu akibat reorganisasi massal di perusahaan tersebut yang melibatkan 10 ribu karyawan atau 10% dari total. Reorganisasi itu menyangkut pemindahan karyawan ke departemen lain sejak 2004.

Selama berbulan-bulan manajemen France Telecom menafikkan bunuh diri itu akibat kelelahan dan tekanan kerja yang telah menjangkiti seluruh pegawai. Namun presiden dan chief executive perusahaan itu Didier Lombard akhirnya mengakui jika telah membuat kesalahan menyangkut naiknya stres di antara pegawai.

Namun salah satu eksekutif di perusahaan telekomunikasi terbesar di Perancis itu menyalahkan tingginya kasus bunuh diri itu pada BlackBerry. Eksekutif itu menyebut rentetan email dari smartphone dan komputer yang membuat pegawai stres.

Kendati Chief Finacial France Telecom Gervais Pellissier tidak menyalahkan secara langsung pada email yang bertubi-tubi yang menyebabkan bunuh diri, tapi ia mengatakan semua perusahaan besar sedang mengalami tekanan besar di era BlackBerry.

Setelah 22 pekerjanya bunuh diri dan 13 orang lainnya gagal melakukan bunuh diri, France Telecom telah melakukan penelitian dengan cermat. Pellissier mengatakan beberapa karyawan merasakan banyak tekanan akibat privatisasi France Telecom. Namun ia menyebut hal itu diperparah dengan teknologi baru yang mengganggu kehidupan pribadi karyawan.

”15 tahun yang lalu, ketika Anda menjadi seorang karyawan menengah di sebuah perusahaan besar, Anda tidak punya ponsel atau tidak ada PC di rumah. Saat Anda sudah kembali rumah, pekerjaan ditinggalkan," katanya.

Sedangkan saat ini BlackBerry telah diplesetkan menjadi CrackBerry

(CanduBerry) karena beberapa penggunanya kecanduan mengecek email secara terus menerus. Akibatnya karyawan akan kesulitan dan kebingungan karena percampuran antara kehidupan pribadi dan kehidupan profesional dibandingkan di masa lalu.

"Masalah ini tidak hanya terjadi di France Telecom tapi merupakan isu masyarakat global, akibat dari cara-cara baru dalam bekerja yang mempengaruhi perilaku pribadi," kata Pellissier.

Meskipun tingkat rata-rata bunuh diri pegawai naik di semua negara maju, tapi korban France Telecom adalah berusia 40 hingga 50-an yang biasa merasakan naik turunnya bisnis telekomunikasi dan internet. Serikat pegawai menyalahkan pada pemindahan pekerjaan yang mencapai 20 kali sejak 2004.

Pegawai France Telecom sejak lama terlindungi dengan bentuk perusahaan sebagai pelayan publik. Namun setelah diprivatisasi pada 2004, perusahaan itu dituduh mengadopsi taktik kotor untuk menyingkirkan pegawai yang tidak diinginkan di perusahaan itu.

Banyak pegawai yang dipindahkan ke bagian call center yang melelahkan, shift kerja malam dengan tekanan berat selain dipaksa bersaing dengan karyawan lain yang duduk di sebelahnya.

Chief Executive France Telecom, Didier Lombard mengatakan awal bulan ini perusahaannya telah menambahkan pengawasan serta menyediakan layanan konseling sebagai salah satu cara preventif menghadapi aksi bunuh diri karyawan. Mudah-mudahan kasus seorang pria menusuk perutnya sendiri saat sedang rapat, serta seorang wanita meloncat keluar jendela tidak terulang lagi.

sumber: inilah

0 comments:

Copyright © 2012 Berita IT.
Blogger Template by Clairvo